Islam mengajarkan persaudaraan dan kasih sayang kepada siapapun, baik itu kepada kerabat dekat dalam nasab maupun orang lain sesama muslim, sesama manusia bahkan kepada sesama makhluk Allah di Alam semesta. Inilah yang dinamakan shilaturahmi (ada yang menyebutnya shilaturahim).
Di tengah masyarakat banyak yang memahami shilaturahmi adalah saling mengunjungi, atau mengadakan pertemuan dalam suasana keakraban dan semacamnya. Tapi apakah hanya sebatas itu yang dinamakan shilaturahmi.
Shilaturahmi berarti menyambung persudaraan dan tali kasih. Inilah ajaran agama yang essensinya adalah kasih sayang.
Maka di dalam syariat terdapat banyak sekali terminal terminal pengamalan riil shilaturahmi -yang terkait dengan saling menyayangi-. Ada yang bersifat materi diantaranya zakat, infak, sedekah, hibah, hadiyah dll.
Ada yang non materi seperti membantu dengan tenaga, fikiran, nasihat, motifasi, memberi solusi, melipur kesedihan dan lain lain, termasuk DOA.
Yang terakhir ini (DOA) jangan diremehkan, bahkan doa adalah hal yang istimewa, sebab membantu atau menyayangi dengan doa itu terhubung dengan sang Maha pengatur secara langsung dan IA maha pemberi kasih sayang sesungguhnya. Dan karena doa bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun meski diri yang berdoa juga -seumpamanya- kondisinya sama dalam kesusahan seperti yang didoakan. Lebih istimewa lagi kalau doa itu dilaksanakan secara dan waktu yang khusus dengan kekhusyuan.
Lebih spesial lagi adalah SHILATURAHMI GHAIB dengan doa dimana orang yang didoakan tidak mengetahui. Ini dikatakan lebih spesial dari yang lainnya karena pelaksanannya lebih terjaga keikhlasannya dan pada saat itu dia dapat melepas ego dirinya. Bahkan menurut keterangan ada jaminan diijabah karena praktek ini disertai dan di-amini oleh malaikat, sedang Malaikat adalah makhluk suci yang dekat denganAllah Swt.
عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: ” دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ:آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Dari Ummu Darda’ dan Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali orang muslim itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata, “Amin (semoga Allah mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa.”(HR. Muslim no. 2733, Abu Daud no. 1534, Ibnu Majah no. 2895 dan Ahmad no. 21708)
قال الإمامالنووي: "وَكَانَ بَعْض السَّلَف إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَخِيهِ الْمُسْلِم بِتِلْكَ الدَّعْوَة؛ لِأَنَّهَا تُسْتَجَاب، وَيَحْصُل لَهُ مِثْلهَا".
Al Imam Nawawi menceritakan : bahwa sebagian ulama salaf ketika ia hendak berdoa untuk keperluan dirinya terlebih dahulu berdoa untuk hajat orang Islam yg lain, karena hal itu akan diijabah dan doa untuk kepentingan dirinya juga dijabah (krn diamini makhluk suci, Malaikat)
Dari keterangan tersebut dipahami bahwa mendoakan orang lain sesama muslim bisa dijadikan wasilah diijabahnya doa.
Wallahu a'lam..
Smoga bermanfaat.
#alfaqiermujahidinfilhaq,lagiblajar
____________________________
Khayat Hidayatullah bersama kang kafi dari Tambi











